Kesehatan

Bundibugyo, Varian Ebola Langka yang Kini Jadi Ancaman Global

WHO menetapkan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRK) dan Uganda sebagai darurat kesehatan internasional. Per 18 Mei 2026, hampir 400 orang diduga terinfeksi dan lebih dari 100 meninggal. Wabah ini disebabkan varian Ebola yang langka bernama Bundibugyo.

Melansir dari channelnewsasia.com, virus bundibugyo adalah salah satu dari empat varian virus Ebola yang berbahaya bagi manusia. Namanya diambil dari Provinsi Bundibugyo di Uganda, tempat varian ini pertama kali ditemukan pada 2007. Setelah itu hanya pernah muncul sekali lagi di DRK pada 2012, sebelum kini kembali mewabah.

Penularannya sama seperti Ebola pada umumnya lewat kontak langsung dengan cairan tubuh orang yang terinfeksi. Tenaga kesehatan termasuk kelompok paling rentan; beberapa perawat dan seorang dokter asal Amerika Serikat sudah terinfeksi dalam wabah ini.

Tingkat kematian akibat virus Bundibugyo berkisar antara 30 sampai dengan 40 persen. Lebih rendah dibanding varian Zaire yang bisa mencapai 90 persen, tapi tetap berbahaya. Gejalanya dimulai seperti flu, demam, lemas, nyeri otot, lalu berkembang menjadi muntah, diare, hingga pendarahan dan gagal organ. Masa inkubasi rata-rata 8–10 hari.

Belum ditemukan vaksin maupun obat yang sudah disetujui untuk virus Bundibugyo. Beberapa kandidat masih dalam uji coba, diantaranya vaksin Ervebo (Merck), MBP134, dan VesiculoVax. Selain itu, tes lapangan standar tidak dirancang untuk mendeteksi varian ini, sehingga sempat muncul hasil negatif palsu yang memperlambat respons selama beberapa minggu dan saat itu virus sudah menyebar lintas batas.

Tanpa vaksin, pengendalian wabah bergantung penuh pada langkah konvensional: isolasi pasien, pelacakan kontak, dan keterlibatan komunitas. Pendekatan ini pernah berhasil menghentikan wabah Ebola Zaire di Afrika Barat. Para ahli kesehatan berharap langkah-langkah yang sama dapat diterapkan secara cepat dan menyeluruh untuk mengendalikan virus Bundibugyo kali ini sebelum penyebarannya semakin meluas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *