IABI: Bencana Bukan Sekadar Fenomena Alam, Ini Soal Tata Kelola
Melansir dari suaramuhammadiyah.id, Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) mendorong adanya perubahan mendasar dalam cara masyarakat dan pemangku kebijakan memahami bencana. Selama ini bencana kerap dilihat sebagai kejadian alam yang tidak terduga, padahal sesungguhnya ia merupakan hasil dari serangkaian pilihan pembangunan, kualitas tata kelola, dan sejauh mana masyarakat mampu beradaptasi terhadap risiko.
Hal tersebut diungkapkan Ketua Umum IABI, Prof. Harkunti P. Rahayu, saat membuka Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) ke-9 IABI yang berlangsung di Ballroom University Hotel, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Rabu (6/5). Menurutnya, risiko bencana kini tidak bisa lagi dijelaskan semata dari faktor alam, melainkan sangat ditentukan oleh keputusan manusia itu sendiri, mulai dari arah pembangunan, kualitas pemerintahan, hingga daya tahan komunitas lokal.
Gagasan itulah yang melatari pemilihan tema PIT ke-9: Penguatan Tata Kelola Risiko Bencana untuk Ketangguhan. Bagi IABI, tema tersebut bukan sekadar framing ilmiah, melainkan respons nyata terhadap kondisi sistem kebencanaan Indonesia yang dinilai masih terlalu bertumpu pada penanganan pasca bencana, alih-alih membangun kesiapan yang sistematis, berbasis bukti, dan melibatkan semua lapisan pengambil keputusan.
Urgensi perubahan ini kian nyata di tengah lanskap risiko Indonesia yang terus berkembang. Harkunti menyebut kombinasi antara krisis iklim, tekanan urbanisasi, kerusakan ekosistem, dan kebijakan pembangunan yang abai terhadap dimensi risiko sebagai faktor-faktor yang secara kolektif memperdalam kerentanan masyarakat, jauh melampaui sekadar peta bahaya geologis atau hidrometeorologi.
Atas dasar itu, PIT ke-9 sengaja dirancang sebagai forum lintas sektor. Akademisi, birokrat, pelaku industri, dan warga masyarakat duduk bersama dalam satu ruang, merefleksikan keyakinan IABI bahwa tidak ada satu pihak pun yang bisa membangun ketangguhan bencana sendirian. Forum ini turut mendapat dukungan dari Kemenko PMK, BNPB, dan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta.
Tak kalah penting, penyelenggaraan PIT ke-9 ini bertepatan dengan peringatan 20 tahun Gempa Yogyakarta dan Jawa Tengah 2006. Harkunti menegaskan bahwa dua dekade seharusnya menjadi waktu yang cukup untuk berbenah, namun kenyataannya pekerjaan rumah penguatan sistem kebencanaan nasional masih panjang.
Sebanyak sekitar 500 peserta dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti forum tiga hari ini, sekaligus menandai babak baru dalam sejarah PIT IABI yang baru pertama kali terselenggara dalam skala ini sejak organisasi tersebut berdiri pada 2014.
