Pasokan Gandum Global Menyusut, FAO Wanti-wanti Harga Pangan Naik
Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) mengingatkan bahwa berbagai produk pangan berbahan dasar gandum, seperti roti dan mi instan, diperkirakan akan semakin mahal pada tahun ini hingga tahun depan.
Peringatan ini muncul seiring proyeksi penurunan pasokan gandum global pada musim 2026/2027, akibat anjloknya produksi di negara-negara eksportir utama termasuk Amerika Serikat dan Uni Eropa. Situasi tersebut dikhawatirkan akan mendorong kenaikan harga sejumlah produk pangan berbasis gandum di pasaran.
Dalam laporan Food Outlook edisi Juni 2026, FAO memprediksi produksi gandum dunia pada musim 2026/2027 hanya akan mencapai 810,9 juta ton, atau anjlok 3,8 persen dibandingkan rekor produksi musim sebelumnya.
“Produksi gandum global 2026/2027 diperkirakan turun 3,8 persen menjadi 810,9 juta ton akibat panen yang lebih kecil di negara dan kawasan eksportir utama, terutama Australia, Uni Eropa, dan AS,” demikian tertulis dalam laporan tersebut.
Lembaga di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu mengungkapkan bahwa penurunan produksi ini dipicu oleh kombinasi cuaca yang tidak bersahabat serta menyusutnya keuntungan usaha tani, yang akhirnya membuat petani mengurangi luas lahan tanam dan investasi produksi.
Amerika Serikat tercatat mengalami penurunan produksi paling tajam. FAO memperkirakan produksi gandum di negara tersebut bakal merosot hingga 21,3 persen dibanding musim sebelumnya. Selain AS, Uni Eropa dan Australia dua pemasok utama gandum dunia lainnya juga diproyeksikan mengalami penurunan produksi serupa.
Kondisi ini membuat pasokan ekspor global diperkirakan lebih ketat dibanding tahun sebelumnya, meskipun sebagian penurunan masih bisa diimbangi oleh peningkatan produksi di beberapa negara Asia.
Dampak dari situasi ini sudah mulai terasa pada pergerakan harga di pasar internasional. FAO mencatat harga gandum dunia terus merangkak naik dalam beberapa bulan terakhir, seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap prospek panen di negara-negara eksportir utama.
“Harga gandum dunia naik 3,4 persen dibanding bulan sebelumnya dan 7,8 persen dibanding periode yang sama tahun lalu, didukung oleh prospek panen yang lebih kecil di negara-negara eksportir utama, termasuk AS,” tulis FAO.
Bahkan, harga gandum keras musim dingin (hard red winter wheat) di AS pada Mei 2026 tercatat 28 persen lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Lonjakan ini dipicu oleh kondisi tanaman yang disebut sebagai salah satu yang terburuk dalam beberapa dekade terakhir, akibat kekeringan berkepanjangan.
Tren serupa juga terjadi di Australia, di mana harga gandum naik 3,3 persen secara bulanan dan 7,5 persen secara tahunan. Kenaikan ini dipicu oleh keputusan petani mengurangi rencana tanam, lantaran tingginya biaya pupuk dan risiko curah hujan yang lebih rendah dari biasanya.
Sementara itu, harga gandum di kawasan Uni Eropa juga ikut terkerek akibat kekhawatiran dampak suhu tinggi terhadap produktivitas panen. Di Rusia, penguatan nilai tukar rubel serta keterlambatan musim tanam turut menjadi faktor pendorong kenaikan harga ekspor gandum.
Meski produksi mengalami penurunan, FAO menilai kondisi pasokan gandum global secara umum masih relatif stabil. Stok gandum dunia pada akhir musim 2026/2027 bahkan diperkirakan naik tipis menjadi 348,6 juta ton, berkat akumulasi cadangan di sejumlah negara Asia.
“Rasio stok terhadap penggunaan global diperkirakan tetap berada pada level yang nyaman, menunjukkan situasi pasokan dunia secara keseluruhan masih seimbang,” demikian disebutkan dalam laporan FAO.
Kendati demikian, FAO mengingatkan bahwa sebagian besar stok dunia kini justru terkonsentrasi di negara-negara yang bukan merupakan eksportir utama. Hal ini berarti ketersediaan gandum yang benar-benar dapat diperdagangkan di pasar internasional tetap berpotensi lebih terbatas dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Dari sisi perdagangan, volume perdagangan gandum dunia diperkirakan menyusut 3,3 persen menjadi 199,1 juta ton pada musim 2026/2027. Penurunan ini terutama dipicu oleh berkurangnya permintaan impor dari kawasan Afrika Utara, Timur Tengah, serta sebagian Asia yang sudah memiliki stok memadai dan produksi domestik yang membaik.
FAO juga mengingatkan bahwa pasar pangan global masih rentan terhadap gangguan cuaca dan gejolak harga energi. Ketidakpastian geopolitik yang mengganggu jalur perdagangan strategis, termasuk Selat Hormuz, disebut berpotensi mengerek biaya pupuk, logistik, hingga impor pangan.
“Meningkatnya harga serealia menunjukkan kerentanan pasar pangan terhadap risiko cuaca dan gangguan di pasar energi serta input produksi,” tulis FAO.
Lembaga tersebut menambahkan, lonjakan harga energi dapat memberikan dampak signifikan terhadap biaya impor pangan dunia. Dalam situasi risiko geopolitik yang tinggi, dampaknya bahkan berpotensi hampir dua kali lipat dibanding kondisi normal, akibat naiknya biaya asuransi, premi risiko, dan hambatan logistik.
Sebagai informasi, gandum merupakan bahan baku utama bagi berbagai produk pangan olahan yang banyak dikonsumsi masyarakat sehari-hari, mulai dari roti, mi instan, biskuit, hingga aneka makanan berbahan dasar tepung lainnya.
