Kesehatan

IDAI Ingatkan Imunisasi Rutin Lebih Efisien dari Penanganan KLB Penyakit Menular

Urgensi imunisasi rutin menjadi salah satu kunci utama dalam mengantisipasi kejadian luar biasa (KLB) penyakit menular yang masih terjadi di Indonesia.

Melansir dari antaranews.com, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menegaskan bahwa cakupan imunisasi yang tinggi mampu mengendalikan penyebaran penyakit, terutama yang memiliki tingkat penularan tinggi.

Ketua Pengurus Pusat IDAI, Piprim Basarah Yanuarso, mengatakan berbagai kasus yang muncul sejatinya dapat dicegah apabila cakupan imunisasi di masyarakat tinggi dan merata.

Hal tersebut ia sampaikan dalam puncak peringatan Pekan Imunisasi Dunia 2026 yang dipusatkan di Universitas Gunung Jati, Cirebon, Minggu (4/5/2026).

“Kita masih melihat bagaimana Indonesia masih disibukkan dengan berbagai KLB atau wabah penyakit menular yang sebetulnya bisa dicegah dengan imunisasi,” kata Piprim.

Ia menambahkan, pencegahan melalui imunisasi jauh lebih efisien dibandingkan penanganan wabah yang sudah terjadi. Program respons wabah seperti Outbreak Response Immunization (ORI) membutuhkan biaya dan sumber daya yang lebih besar dibandingkan imunisasi rutin.

“Kalau terjadi KLB itu biayanya jauh lebih mahal daripada apabila kita melakukan imunisasi rutin,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Satuan Tugas Imunisasi IDAI, Hartono Gunardi, menyampaikan bahwa cakupan imunisasi sempat menurun akibat pandemi COVID-19. Pandemi tersebut berdampak pada layanan imunisasi tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara di dunia.

Selain gangguan layanan, keraguan terhadap vaksin di masyarakat turut menjadi tantangan dalam meningkatkan kembali cakupan imunisasi. Hartono mencontohkan negara-negara di Eropa yang sebelumnya bebas campak, kembali mengalami KLB akibat menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap vaksin.

IDAI mengimbau para orang tua untuk memeriksa kelengkapan imunisasi anak melalui buku KIA dan segera melengkapinya, guna melindungi anak serta mencegah penularan penyakit di lingkungan sekitar.

“Dengan melengkapi imunisasi anak, bukan hanya melindungi anak, tetapi juga melindungi anggota keluarga lain,” ujar Hartono.

Sebelumnya, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Cirebon mencatat KLB campak telah ditetapkan sejak 20 Februari 2026, menyusul meningkatnya temuan kasus di wilayah tersebut. Berdasarkan data hingga minggu ke-13 atau per 4 April 2026, jumlah suspek campak mencapai 150 kasus dengan sembilan di antaranya terkonfirmasi positif laboratorium.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *