BRIN dan LPDP Buka RIIM Kompetisi 2026, Maksimalkan Dana Abadi Penelitian
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bekerja sama dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) menyelenggarakan program Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) Kompetisi 2026.
Melansir dari brin.go.id, RIIM Kompetensi sebagai upaya memperluas akses periset dan lembaga riset Indonesia dalam memperoleh pendanaan melalui optimalisasi dana abadi penelitian. Program ini bertujuan memperluas akses pendanaan riset bagi periset dan lembaga riset di seluruh Indonesia melalui pemanfaatan dana abadi penelitian secara optimal.
Deputi Bidang Fasilitasi Riset dan Inovasi BRIN, Agus Haryono, menyampaikan RIIM Kompetisi menjadi salah satu program pendanaan riset yang mendapat antusiasme tinggi sejak pertama kali dilaksanakan pada 2022. Hingga saat ini, lebih dari 2.000 proyek riset telah didanai melalui program tersebut.
“RIIM Kompetisi merupakan pendanaan multiyears yang dapat dilaksanakan hingga tiga tahun. Kami menunggu sebanyak-banyaknya proposal dari para periset karena ini merupakan kesempatan yang sangat baik untuk pengembangan ide-ide riset,” ujarnya.
Ia menambahkan, pembukaan proposal RIIM Kompetisi 2026 dilakukan dalam dua batch. Batch pertama saat ini telah memasuki tahap evaluasi, sedangkan batch kedua dijadwalkan dibuka pada Juli 2026. Selain RIIM Kompetisi, BRIN juga membuka skema fasilitasi pengujian dan pengembangan produk inovasi untuk mendukung hilirisasi hasil riset.
Agus juga mengimbau peserta agar berhati-hati terhadap pihak yang mengatasnamakan program RIIM Kompetisi. Menurutnya, BRIN tidak bekerja sama dengan pihak tertentu dalam penyusunan proposal maupun pengadaan yang berkaitan dengan program tersebut.
Masih dalam kesempatan yang sama, Direktur Fasilitasi Riset LPDP, Ayom Widipaminto, menyampaikan pihaknya terus memperkuat dukungan pendanaan riset melalui dana abadi penelitian. Saat ini, dana abadi yang dikelola LPDP mencapai lebih dari Rp180,1 triliun, dengan dana abadi penelitian sebesar Rp13,99 triliun.
Menurut Ayom, kolaborasi BRIN dan LPDP telah mendukung lebih dari 10.000 riset. Khusus program RIIM, rata-rata pendanaan setiap tahun mencapai Rp150 miliar dengan total akumulasi sekitar Rp792 miliar.
“Pemanfaatan dana abadi penelitian masih dapat terus ditingkatkan. Karena itu, LPDP bersama BRIN berupaya memperkuat ekosistem riset dan inovasi agar semakin banyak peneliti dapat mengakses pendanaan secara optimal,” tutur Ayom.
Sementara itu, Khadija Raida dari Direktorat Pendanaan Riset dan Inovasi BRIN menegaskan bahwa RIIM Kompetisi terbuka bagi lembaga riset pemerintah maupun nonpemerintah yang ingin menghasilkan kebaruan, invensi, dan inovasi yang memberi dampak nyata. Skema ini tidak hanya berorientasi pada publikasi ilmiah internasional dan kekayaan intelektual, tetapi juga diarahkan untuk memperkuat kebijakan berbasis bukti serta mendorong hasil riset berteknologi tinggi agar dapat diserap oleh industri dan masyarakat luas.
Dalam pedoman RIIM Kompetisi 2026, terdapat sejumlah ketentuan baru yang perlu diperhatikan. Ketua pengusul dipersyaratkan minimal berpendidikan magister sekaligus sedang menjalani studi doktoral, sementara setiap periset dibatasi terlibat dalam tidak lebih dari tiga proposal pada satu periode pendanaan. Pendanaan dapat berlangsung hingga tiga tahun tanpa kewajiban mengajukan proposal baru setiap tahunnya, sepanjang evaluasi kinerja periode sebelumnya dinilai baik. Luaran wajib meliputi publikasi di jurnal bereputasi minimal Q3 Scopus atau kekayaan intelektual seperti paten dan perlindungan varietas tanaman.
Seluruh proses pengajuan proposal hingga pengumuman hasil seleksi dapat diakses melalui platform https://pendanaan-risnov.brin.go.id/. Melalui program ini, BRIN dan LPDP berharap semakin banyak peneliti dan lembaga riset yang memanfaatkan peluang pendanaan RIIM Kompetisi untuk menghasilkan inovasi yang berkontribusi bagi kemajuan pembangunan nasional.
