Mengenal Bediding, Ketika Kemarau Justru Membuat Malam Makin Dingin Menusuk
Dalam beberapa hari terakhir, suhu dingin ekstrem mulai dirasakan di kawasan selatan Indonesia, terutama di Pulau Jawa dan Nusa Tenggara. Fenomena ini dikenal luas dengan sebutan bediding atau penurunan suhu.
Di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan bediding pada 2026 akan berlangsung lebih intens dan dalam kurun waktu yang lebih lama dibandingkan musim-musim kemarau sebelumnya.
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta, Reni Kraningtyas, menjelaskan bahwa turunnya suhu udara saat kemarau merupakan hal yang wajar. Pemicunya adalah aliran massa udara dari Benua Australia yang bersifat dingin dan kering, bergerak melintasi wilayah Indonesia dalam pola yang dikenal sebagai angin muson Australia.
Pergerakan angin tersebut mengikis kadar air di dalam tanah, yang pada akhirnya menekan jumlah uap air di atmosfer. Akibatnya, kelembapan udara turun dan terasa jauh lebih kering dari biasanya. Minimnya tutupan awan selama kemarau juga memperparah kondisi ini. Panas matahari yang diserap siang hari tidak tertahan dan langsung terlepas ke atmosfer luar begitu malam tiba, sehingga suhu pun merosot tajam.
Reni menambahkan, kemarau tahun ini yang cenderung lebih kering dari kondisi normal berpotensi memperpanjang periode bediding sekaligus memperparah intensitasnya. Rasa dingin tidak lagi terbatas pada malam hari, melainkan bisa bertahan hingga dini hari, pagi, bahkan mendekati siang.
Berdasarkan data pemantauan BMKG, suhu udara pada awal musim kemarau saat ini masih berada dalam rentang normal, yakni sekitar 22–23 derajat Celsius. Suhu terendah yang tercatat sejauh ini terjadi pada 31 Mei 2026, yaitu 21,4 derajat Celsius. Namun kondisi itu diperkirakan akan berubah drastis saat kemarau mencapai puncaknya.
“Puncak musim kemarau diperkirakan berlangsung pada Juli hingga Agustus,” ungkap Reni. Ia mengimbau masyarakat untuk mulai mempersiapkan diri, khususnya dengan menyediakan pakaian hangat saat beraktivitas di luar ruangan pada malam hari.
Di sisi kesehatan, Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Menular dan Imunisasi Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Endang Sri Rahayu, mengingatkan bahwa awal musim kemarau kerap diiringi peningkatan kasus penyakit tertentu. Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) dan diare menjadi dua kondisi yang paling perlu diantisipasi karena berpotensi mengganggu produktivitas warga sehari-hari.
Sebagai langkah pencegahan, Endang mendorong penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) secara konsisten, di antaranya rajin mencuci tangan dengan sabun dan menjaga asupan gizi yang seimbang setiap harinya
Sumber : Radar Jogja
