BRIN Catat 10 Spesies Anggrek yang Baru Ditemukan di Indonesia, Ini Daftarnya
Sepuluh spesies anggrek resmi tercatat sebagai rekaman baru di Indonesia setelah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama sejumlah mitra peneliti merampungkan serangkaian kajian ilmiah. Melansir dari brin.go.id, penemuan ini memperluas peta persebaran anggrek Nusantara sekaligus menegaskan betapa pentingnya eksplorasi keanekaragaman hayati dan telaah koleksi herbarium sebagai fondasi pelestarian flora Indonesia.
Dikenal sebagai salah satu negara megabiodiversitas di dunia, Indonesia diperkirakan menjadi rumah bagi sekitar 5.000 spesies anggrek. Kendati demikian, masih banyak kawasan yang belum terjamah oleh penelitian secara memadai, sehingga tidak sedikit spesies yang hingga kini luput dari pendataan ilmiah.
Riset ini berhasil mengidentifikasi sepuluh spesies yang untuk pertama kalinya tercatat keberadaannya di Indonesia, yaitu:
- Sumatra = Bulbophyllum nematocaulon, Bulbophyllum sanguineomaculatum, Cleisomeria lanatum, Corybas calopeplos, dan Corybas holttumii
- Jawa = Acanthophippium bicolor dan Anoectochilus papuanusĀ
- Kepulauan Nusa Tenggara = Dendrobium teretifolium
- Kalimantan = Bulbophyllum thiurumĀ
- Sulawesi = Aerides augustiana
Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal internasional Lankesteriana volume 26 (1) tahun 2026 lewat artikel bertajuk Ten New Orchid Records from the Indonesian Archipelago.
Proses penelitian berlangsung selama empat tahun, yakni dari 2020 hingga 2024, melalui eksplorasi lapangan yang menjangkau Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara. Tim yang terlibat mencakup Yuda Rehata Yudistira dari Yayasan Tumbuhan Asli Nusantara dan Yayasan Konservasi Biota Lahan Basah, serta Wendy A. Mustaqim dari Departemen Biologi Universitas Samudra. Selama kegiatan di lapangan, tim mengumpulkan spesimen, mendokumentasikan morfologi, mengawetkan herbarium, dan membandingkan hasilnya dengan koleksi herbarium nasional maupun internasional.
Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi (PRBE) BRIN, Aninda Retno Utami Wibowo, menyatakan bahwa capaian ini mencerminkan betapa luasnya potensi keanekaragaman anggrek Indonesia yang masih belum tersentuh oleh dokumentasi ilmiah.
“Temuan sepuluh rekaman baru ini menunjukkan bahwa Indonesia, khususnya Kawasan Wallacea dan wilayah timur Indonesia, masih menyimpan banyak potensi keanekaragaman anggrek yang belum terdokumentasi. Eksplorasi lapangan dan kajian koleksi herbarium perlu terus diperkuat untuk memperkaya data biodiversitas nasional,” ujar Aninda.
Dari sisi biogeografi, sejumlah spesies memperlihatkan pola sebaran yang menarik. Anoectochilus papuanus, yang sebelumnya hanya dikenal dari Papua dan Kepulauan Solomon, kini turut ditemukan di Jawa Timur. Hal serupa terjadi pada Dendrobium teretifolium yang semula dianggap berasal dari Australia, namun ternyata juga hadir di Nusa Tenggara Timur.
Di luar perluasan data distribusi, penelitian ini turut menyajikan gambaran ekologi yang lebih komprehensif, mencakup informasi habitat, fenologi, hingga ciri morfologi tiap spesies. Sebagian spesies ditemukan hidup di hutan pegunungan, sebagian lainnya di rawa dataran rendah, bahkan ada yang menghuni hutan lumut dengan kondisi lingkungan yang sangat khas dan spesifik.
Hasil studi ini diharapkan dapat menjadi acuan ilmiah yang kokoh dalam merancang strategi konservasi flora Indonesia, khususnya di wilayah-wilayah yang selama ini belum mendapat perhatian optimal. Pendataan spesies yang teliti dan menyeluruh dinilai menjadi kunci dalam memperkuat perlindungan habitat serta mendorong lahirnya kebijakan konservasi yang benar-benar bertumpu pada data sains.
(Sumber = BRIN)
