Muhammadiyah Didorong Perkuat Peran Diplomasi demi Lindungi Pekerja Migran Indonesia
Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2005–2015, Din Syamsuddin, mengajak Muhammadiyah untuk terus berkontribusi secara strategis dalam memperkuat perlindungan serta meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup pekerja migran Indonesia.
Muhammadiyah memiliki kapasitas besar untuk berkontribusi melalui jalur diplomasi, pendampingan langsung, serta penyelenggaraan pelatihan keterampilan bagi calon pekerja migran sebelum mereka diberangkatkan ke luar negeri.
Hal itu disampaikan Din dalam kapasitasnya sebagai narasumber pada agenda Muhammadiyah Diplomacy Training (MDT) yang digelar Lembaga Hubungan dan Kerja Sama Internasional (LHKI) PP Muhammadiyah di Auditorium KH Ahmad Dahlan, Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung, Sabtu (6/8).
Dalam pemaparannya, Din menguraikan bahwa persoalan yang dihadapi pekerja migran Indonesia dapat dipilah menjadi tiga fase utama, yaitu sebelum keberangkatan, selama bekerja di negara tujuan, dan pasca kepulangan ke tanah air. Ketiga fase itu, tegasnya, menyimpan berbagai titik rawan yang kerap menjadi sumber permasalahan serius.
“Karena penempatan tenaga kerja melibatkan banyak pihak, peluang terjadinya praktik yang tidak adil masih cukup besar,” ujarnya.
Secara khusus, Din menyoroti rendahnya tingkat pendidikan dan keterampilan sebagian calon pekerja migran sebagai tantangan utama pada fase pra-keberangkatan. Kondisi tersebut membuat mereka rentan menghadapi kesulitan beradaptasi di lingkungan kerja baru, bahkan berpotensi mendapat perlakuan yang tidak semestinya dari pihak pemberi kerja.
Untuk menjawab tantangan itu, Din menilai Muhammadiyah dapat memaksimalkan jaringan lembaga, majelis, organisasi otonom, serta Amal Usaha yang dimilikinya untuk menyelenggarakan program pembekalan dan pendampingan yang terstruktur. Langkah ini diyakininya mampu membantu calon pekerja migran menghadapi berbagai risiko di negara tujuan, termasuk ancaman pelecehan seksual yang kerap menimpa pekerja migran perempuan.
“Ini merupakan ruang yang masih sangat terbuka untuk digarap Muhammadiyah,” ucapnya.
Senada dengan itu, Rektor UM Bandung Herry Suhardiyanto menyambut positif penyelenggaraan agenda strategis tersebut. Ia menekankan bahwa kemampuan diplomasi merupakan bekal penting dalam memperjuangkan kepentingan bangsa, termasuk dalam hal perlindungan warga negara Indonesia di luar negeri. Herry berharap kegiatan ini kelak melahirkan kader-kader Muhammadiyah yang andal di bidang hubungan internasional dan diplomasi.
MDT berlangsung selama dua hari dan dihadiri sejumlah tokoh penting, di antaranya Ketua PP Muhammadiyah Syafiq Mughni, Wakil Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Zulfikar Ahmad Tawalla, beberapa duta besar, Ketua LHKI PP Muhammadiyah Imam Addaruqutni, serta Ketua Lazismu PP Muhammadiyah Ahmad Imam Mujadid Rais.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Muhammadiyah memperkuat diplomasi kemanusiaan di panggung global, sekaligus wujud nyata komitmen organisasi dalam memberdayakan pekerja migran Indonesia sebagai bagian penting dari kekuatan bangsa.
Sumber:Muhammadiyah
