Lingkungan

5 Juni Hari Lingkungan Hidup Internasional: Sejarah dan Makna

Setiap tanggal 5 Juni, dunia bersama-sama memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia di tengah tekanan krisis iklim yang kian nyata.

Peringatan ini pertama kali digagas oleh Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP), dan kini telah berkembang menjadi salah satu forum lingkungan terbesar di dunia, melibatkan jutaan orang, ribuan organisasi, serta pemerintah dari lebih dari 150 negara setiap tahunnya.

Penetapan tanggal 5 Juni sebagai hari peringatan dilakukan oleh Majelis Umum PBB pada 1972, dan pertama kali dirayakan setahun kemudian dengan mengusung slogan “Hanya Satu Bumi”. Sejak saat itu, peringatan tahunan ini terus tumbuh sebagai wadah untuk menggugah kesadaran publik atas berbagai persoalan lingkungan, mulai dari polusi udara, pencemaran plastik, perdagangan satwa liar ilegal, krisis air bersih, kenaikan permukaan laut, hingga ancaman terhadap ketahanan pangan global.

PBB mengingatkan bahwa bumi tidak lagi sekadar memberi peringatan, ia telah menunjukkan dampaknya secara langsung. Suhu yang memecahkan rekor, kebakaran hutan yang semakin meluas, badai ekstrem, dan gletser yang mencair adalah bukti nyata bahwa perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan kenyataan yang sedang berlangsung. Target pembatasan pemanasan global di angka 1,5 derajat Celsius yang selama ini dikampanyekan kini berada di ambang pelanggaran, dan setiap sepersekian derajat menjadi sangat berarti.

Meski demikian, PBB mencatat adanya tanda-tanda harapan yang mulai bermunculan. Panel surya yang semakin meluas di atap-atap bangunan, turbin angin yang berdiri di berbagai penjuru, kota-kota yang dirancang ulang dengan mempertimbangkan kebutuhan manusia, serta upaya penghijauan kembali hutan-hutan yang rusak menjadi sinyal bahwa solusi iklim mulai berakar. Aksi kolektif masyarakat, semangat kaum muda, dan transisi menuju energi bersih dinilai sebagai kekuatan nyata yang terus menguat.

Azerbaijan Jadi Tuan Rumah 2026

Pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, Republik Azerbaijan dipercaya sebagai tuan rumah dengan tema utama perubahan iklim. Berbagai rangkaian acara, kampanye, dan aksi kreatif akan digelar di berbagai benua secara serentak.

Azerbaijan dipilih bukan tanpa alasan. Negara yang terletak di persimpangan jalur Timur dan Barat sepanjang jalur sutra bersejarah ini memiliki kekayaan alam yang beragam. Bentangnya mencakup delapan jenis iklim berbeda, mulai dari kawasan subtropis hingga ekosistem pegunungan tinggi, sehingga menghadirkan keanekaragaman hayati yang kaya.

Sebagai negara penandatangan Perjanjian Paris, Azerbaijan berkomitmen memangkas emisi karbon sebesar 40 persen pada 2035 dibandingkan level tahun 1990, serta meningkatkan porsi energi terbarukan hingga 30 persen pada 2030. Sejumlah proyek berskala besar tengah berjalan, di antaranya Pembangkit Listrik Tenaga Surya Garadagh berkapasitas 230 MW dan Ladang Angin Khizi-Absheron berkapasitas 240 MW, dengan proyek tambahan lebih dari 1 GW yang masih dalam tahap pengembangan.

Di sisi kebijakan, Azerbaijan juga telah melarang impor, produksi, dan penjualan kantong plastik sekali pakai serta kantong polietilen dengan ketebalan hingga 15 mikron sejak 2019, sebagai bagian dari upaya menekan dampak buruk limbah plastik terhadap lingkungan.

Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 menjadi pengingat bahwa waktu untuk berubah masih ada. Bumi telah mengirimkan sinyalnya. Kini, giliran manusia menentukan respons apa yang akan diberikan.

Sumber: CNN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *