Kesehatan

Indonesia Peringkat Tiga Dunia Penderita Penyakit Hati Kronis, Menkes: Obesitas Jadi Salah Satu Pemicunya

Indonesia menempati peringkat ketiga dunia dengan jumlah penderita penyakit hati kronis terbanyak, hanya di bawah China dan India. Melansir dari CNBC, Hal itu diungkapkan oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam peringatan Hari Kesehatan Hati Sedunia bertema “Kebiasaan Solid, Hati yang Kuat” di Jakarta, Selasa (2/6/2026).

Budi menyebutkan, secara global lebih dari 300 juta orang hidup dengan penyakit hati kronis, dengan angka kematian mencapai dua juta jiwa per tahun atau setara hampir empat orang setiap menitnya. Di Indonesia, jumlah penderitanya diperkirakan mencapai sekitar 70 juta orang.

Ia menjelaskan, lebih dari separuh kematian akibat penyakit hati kronis dipicu oleh infeksi virus hepatitis B dan hepatitis C. Sisanya berasal dari konsumsi alkohol serta gangguan metabolik seperti obesitas dan diabetes yang prevalensinya terus bertambah, termasuk di Indonesia.

Merespons kondisi tersebut, Kementerian Kesehatan telah menjalankan sejumlah langkah pencegahan, antara lain imunisasi hepatitis B bagi tenaga kesehatan, terapi pencegahan penularan dari ibu ke bayi, dan skrining hepatitis dalam program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Sepanjang 2025, sekitar 70 juta orang telah menjalani pemeriksaan melalui program itu. Tahun ini pemerintah menargetkan angka tersebut meningkat menjadi 136 juta orang.

Pemerintah juga mewajibkan pelabelan kandungan nutrisi pada produk makanan guna menekan konsumsi gula, garam, dan lemak berlebih sebagai faktor risiko penyakit kronis. Budi menegaskan pendekatan promotif dan preventif jauh lebih efektif sekaligus lebih hemat dibandingkan pengobatan di stadium lanjut.

Hati Bekerja Tanpa Henti

Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam sekaligus pakar hepatitis Indonesia, Prof. Dr. dr. David Handojo Muljono, Sp.PD, FINASIM, FAASLD, PhD, menggambarkan hati sebagai “pabrik kimia terbesar” dalam tubuh manusia yang beroperasi selama 24 jam penuh. Organ ini menjalankan setidaknya enam fungsi vital, mulai dari detoksifikasi racun dalam darah, pengaturan metabolisme karbohidrat dan lemak, produksi protein penting seperti albumin dan faktor pembekuan darah, hingga membentuk pertahanan imun tubuh terhadap bakteri dan virus.

Prof. David menjelaskan, kerusakan hati umumnya berlangsung bertahap dan kerap tidak disertai gejala pada fase awal. Kondisi dimulai dari perlemakan atau peradangan hati, yang bila tidak ditangani dapat berkembang menjadi fibrosis hingga sirosis seiring bertambahnya jaringan parut yang menghambat aliran darah.

“Semakin dini kerusakan hati dihentikan, semakin besar peluang hati untuk pulih dan terhindar dari komplikasi serius seperti sirosis dan kanker hati,” ujar Prof. David.

Untuk pencegahan, masyarakat dianjurkan menjalani vaksinasi hepatitis A dan B, menjaga berat badan ideal, mengonsumsi makanan bergizi, rutin berolahraga, menghindari alkohol, serta menerapkan perilaku hidup bersih. Deteksi dini dapat dilakukan melalui pemeriksaan darah, tes fungsi hati, USG, hingga pemeriksaan fibrosis non-invasif bagi kelompok berisiko.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *