Muhammadiyah

PP ‘Aisyiyah Perkuat Dakwah Lewat Budaya dan Literasi dalam Webinar Digdaya

Melansir dari suaraaisyiyah.id Pimpinan Pusat (PP) ‘Aisyiyah melalui Lembaga Budaya, Seni, dan Olahraga (LBSO) menggelar Dialog Dakwah dan Budaya (Digdaya) pada Sabtu, 25 April 2026. Berbeda dari seri sebelumnya yang berformat podcast, kali ini Digdaya hadir dalam format webinar dengan mengundang utusan LBSO dari berbagai wilayah Indonesia untuk saling berbagi praktik baik.

Ketua LBSO PP ‘Aisyiyah, Widiyastuti, menyampaikan bahwa program ini bertujuan menguatkan dan menularkan praktik-praktik unggulan antarwilayah. Ia berharap praktik yang memiliki nilai ekonomi, edukasi, maupun nilai lainnya dapat mendorong gerakan LBSO semakin berarti dan berdampak luas.

Widiyastuti juga menegaskan bahwa kehadiran LBSO bertujuan memperluas spektrum dakwah ‘Aisyiyah. Di sejumlah wilayah, program-program LBSO bahkan telah menjadi salah satu solusi dan metode dakwah yang efektif.

Ketua PP ‘Aisyiyah yang membidangi LBSO, Siti Aisyah, menekankan bahwa literasi dalam pandangan ‘Aisyiyah tidak bisa dipisahkan dari nilai-nilai Islam. Merujuk pada wahyu pertama yang memerintahkan untuk membaca, ia menyebut bahwa yang dipelajari bukan hanya soal tauhid, melainkan berbagai ilmu yang di dalamnya termuat nilai-nilai kekuasaan Allah.

Semangat literasi ini, menurut Aisyah, sudah tertanam sejak ‘Aisyiyah berdiri. Ia mencontohkan pidato tokoh ‘Aisyiyah, Siti Bariyah, pada Kongres ‘Aisyiyah di Makassar tahun 1932 berjudul “Kepentingan Lecturer Perempuan”. Siti Bariyah kala itu menyerukan bahwa menghalangi perempuan untuk belajar adalah perbuatan yang sangat tercela. Ia bahkan telah mengusulkan pendirian perpustakaan khusus perempuan, sebuah gagasan yang jauh melampaui zamannya.

Webinar Digdaya kali ini menghadirkan dua narasumber dari PWA Jawa Tengah dan PWA Lampung. Dari Jawa Tengah, Siti Maziyah memaparkan upaya pelestarian warisan budaya tak benda, khususnya di bidang wastra dan kuliner.
Di bidang wastra, PWA Jawa Tengah menginisiasi lomba motif batik untuk seragam ‘Aisyiyah se-Jawa Tengah sejak 2013. Selain melestarikan batik, lomba ini juga mempertimbangkan harga produksi agar terjangkau oleh seluruh warga ‘Aisyiyah di provinsi tersebut.
Di sisi kuliner, LBSO Jawa Tengah bersama 35 Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) melakukan inventarisasi makanan dan jajanan khas dari seluruh kabupaten/kota. Setiap PDA diminta mengirimkan foto, deskripsi, dan resep lengkap kuliner khasnya. Hasilnya kemudian disusun menjadi sebuah buku yang diterbitkan bekerja sama dengan Universitas Diponegoro.

Narasumber berikutnya, Zulyana Samba dari PWA Lampung, memaparkan keberhasilan mendirikan ‘Aisyiyah Corner di Dinas Perpustakaan Provinsi Lampung. Program ini hadir untuk mendukung budaya literasi masyarakat sekaligus memperkenalkan gerak dakwah ‘Aisyiyah secara lebih luas.
Zulyana mengakui berbagai tantangan yang dihadapi sebelum ‘Aisyiyah Corner akhirnya dapat berdiri di lokasi yang strategis. Ke depan, PWA Lampung berencana terus mengembangkan pojok literasi ini agar semakin lengkap dan mampu menarik lebih banyak pengunjung, dengan menggandeng berbagai pihak untuk mewujudkan pusat literasi yang modern dan inklusif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *