Muhammadiyah

Bulan Muharram: Keistimewaan Bulan Allah dan Amalan yang Dianjurkan

Berdasarkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), 1 Muharram 1448 H bertepatan dengan Selasa, 16 Juni 2026. Pergantian tahun Hijriah ini menjadi momen yang tepat bagi umat Islam untuk melakukan introspeksi diri sekaligus meningkatkan kualitas ibadah.

Dalam Islam, Muharram bukan sekadar penanda pergantian tahun. Bulan ini termasuk dalam empat bulan haram yang dimuliakan Allah Swt, sebagaimana ditegaskan dalam QS. at-Taubah [9]: 36:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram (suci). Itulah agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam bulan-bulan itu.”

Rasulullah saw menjelaskan dalam hadis sahih riwayat al-Bukhari dan Muslim bahwa keempat bulan haram tersebut adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab Mudhar.

Para ulama menerangkan bahwa selama bulan-bulan haram, bobot dosa atas kemaksiatan yang dilakukan jauh lebih besar dibandingkan bulan biasa. Sebaliknya, amal kebaikan pun memperoleh keutamaan dan ganjaran yang lebih tinggi. Kondisi ini menjadikan Muharram sebagai kesempatan berharga yang semestinya tidak disia-siakan.

Muharram Disebut Syahrullah

Keistimewaan Muharram semakin istimewa karena Rasulullah saw secara khusus menyebutnya sebagai Syahrullah atau bulan Allah. Beliau bersabda:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ

“Puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu bulan Muharram.” (HR. Muslim)

Para ulama memandang bahwa penyandaran nama Muharram kepada lafaz Allah mencerminkan bentuk pengagungan tersendiri. Meski seluruh bulan sejatinya milik Allah, tidak semua bulan memperoleh penisbatan langsung seperti Muharram.

Hari Asyura dan Kemenangan Nabi Musa

Pada tanggal 10 Muharram, umat Islam mengenal hari Asyura sebagai hari bersejarah yang sarat makna spiritual. Saat pertama kali tiba di Madinah, Rasulullah saw mendapati kaum Yahudi tengah berpuasa. Ketika ditanya, mereka menyebut bahwa hari itu adalah peringatan atas keselamatan Nabi Musa as beserta Bani Israil dari kekejaman Fir’aun.

Ibnu Abbas meriwayatkan respons Rasulullah saw:

فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ، فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

“Maka Nabi saw bersabda, ‘Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.’ Lalu beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa.” (HR. al-Bukhari)

Peristiwa tersebut menegaskan bahwa sejarah para nabi merupakan warisan iman yang menguatkan keyakinan bahwa pertolongan Allah selalu hadir bagi hamba-hamba-Nya yang istikamah di jalan kebenaran.

Amalan Utama Selama Muharram

Memperbanyak Puasa Sunnah

Hadis riwayat Muslim yang menyebut Muharram sebagai bulan terbaik untuk berpuasa setelah Ramadan menjadi landasan kuat bagi umat Islam untuk memperbanyak puasa sunnah sepanjang bulan ini, sesuai kemampuan masing-masing.

Puasa Tasu’a dan Asyura

Di antara seluruh amalan puasa di bulan Muharram, puasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram dikenal sebagai puasa Tasu’a dan Asyura paling ditekankan. Ibnu Abbas menyampaikan:

مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ ﷺ يَتَحَرَّى صِيَامَ يَوْمٍ فَضَّلَهُ عَلَى غَيْرِهِ إِلَّا هَذَا الْيَوْمَ، يَوْمَ عَاشُورَاءَ

“Aku tidak pernah melihat Rasulullah saw begitu bersungguh-sungguh berpuasa pada suatu hari yang beliau utamakan melebihi hari lainnya selain hari ini, yaitu hari Asyura.” (HR. al-Bukhari)

Adapun puasa Tasu’a pada tanggal 9 Muharram dianjurkan sebagai pembeda dari praktik puasa kaum Yahudi. Rasulullah saw menyatakan niatnya:

لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لَأَصُومَنَّ التَّاسِعَ

“Jika aku masih hidup sampai tahun depan, sungguh aku akan berpuasa pada hari kesembilan.” (HR. Muslim)

Memperbanyak Amal Kebajikan

Selain berpuasa, Muharram menjadi waktu yang tepat untuk menggiatkan berbagai bentuk ketaatan lain: membaca Al-Qur’an, memperluas sedekah, mempererat tali silaturahmi, memperbanyak zikir, menunaikan salat malam, serta meningkatkan kepedulian terhadap sesama. Ibnu Abbas menegaskan bahwa ganjaran amal saleh pada bulan-bulan haram lebih besar, sementara dosa akibat kemaksiatan pun lebih berat.

Memasuki tahun baru Hijriah 1448, sudah sepatutnya setiap muslim merenungkan perjalanan setahun yang telah berlalu. apakah ibadah semakin meningkat, akhlak semakin baik, dan kedekatan kepada Allah semakin kuat. Muharram hadir bukan hanya sebagai penanda waktu, tetapi sebagai undangan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Sumber:Muhammadiyah.or.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *