Ekonomi

Harga Minyak Dunia Tembus US$97 per Barel di Tengah Eskalasi Konflik Iran

Harga minyak dunia mencatat kenaikan lebih dari satu persen pada perdagangan Rabu (3/6). Melansir dari cnn hal tersebut  dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah menyusul serangan rudal Iran ke Kuwait dan Bahrain.

Berdasarkan data Reuters, harga minyak acuan Brent tercatat naik US$1,05 atau 1,09 persen ke posisi US$97,05 per barel. Adapun minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat turut menguat US$1,01 atau 1,08 persen hingga menyentuh level US$94,77 per barel. Keduanya sebelumnya juga telah ditutup pada posisi tertinggi dalam sepekan pada sesi perdagangan sebelumnya.

Militer AS mengonfirmasi bahwa Iran meluncurkan rudal balistik ke arah Kuwait dan Bahrain, meski tidak ada target yang dilaporkan terkena dampak serangan. Sebagai balasan, pasukan AS disebut melancarkan serangan terhadap Pulau Qeshm di wilayah Iran.

Di sisi diplomatik, upaya penyelesaian konflik antara Washington dan Teheran belum menunjukkan titik terang. Meski Presiden AS Donald Trump menyebut komunikasi dengan Iran masih berjalan, media Iran justru melaporkan tidak ada kontak antara kedua pihak dalam beberapa hari terakhir.

Senior Commodity Strategist ANZ Bank, Daniel Hynes, menyoroti hambatan di Selat Hormuz yang masih belum sepenuhnya pulih. Menurutnya, Iran telah menanam ranjau di sejumlah titik perairan strategis tersebut sehingga lalu lintas kapal masih jauh di bawah kondisi normal sebelum konflik berlangsung.

Konflik ini telah berlangsung lebih dari tiga bulan sejak serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran dimulai, dan hingga kini masih berada dalam kondisi buntu meski terdapat gencatan senjata yang bersifat rapuh di beberapa wilayah.

Selain tekanan geopolitik, penguatan harga minyak juga ditopang oleh kondisi pasokan. Data American Petroleum Institute (API) mencatat cadangan minyak mentah AS terus menyusut selama tujuh pekan berturut-turut. Pada pekan yang berakhir 29 Mei, stok minyak mentah AS berkurang sekitar 6,8 juta barel, mengindikasikan permintaan energi domestik yang masih kuat.

Pelaku pasar kini menantikan rilis data resmi persediaan minyak pemerintah AS yang dijadwalkan keluar pada Rabu waktu setempat, sebagai acuan lebih lanjut mengenai kondisi pasokan di negara konsumen minyak terbesar dunia itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *