BPS: Manufuktur RI bertahan di zona Ekspansif meski tekanan global menguat
Sektor manufaktur Indonesia berhasil mempertahankan tren positif pada Triwulan I-2026. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Amalia Adininggar Widyasanti, mengungkapkan bahwa Indeks Keyakinan Bisnis Manufaktur (IKBM) masih bertengger di zona ekspansi di tengah berbagai tekanan ekonomi global dan ketidakpastian geopolitik.
BPS mencatat industri pengolahan tumbuh 5,04 persen secara year-on-year (yoy) pada periode tersebut, menjadikannya salah satu pilar penopang perekonomian nasional. Pertumbuhan ini ditopang oleh meningkatnya aktivitas produksi di berbagai subsektor, khususnya yang digerakkan oleh investasi dan permintaan pasar dalam negeri.
Sejumlah subsektor mencatatkan kinerja yang menonjol. Industri mesin dan perlengkapan menjadi yang paling pesat dengan pertumbuhan mencapai 21,93 persen yoy. Disusul industri komputer, barang elektronik, dan optik yang tumbuh 10,35 persen, serta industri barang galian bukan logam sebesar 9,12 persen. Amalia menjelaskan, lonjakan pada subsektor-subsektor tersebut seiring dengan tingginya kebutuhan barang modal untuk menopang ekspansi usaha, tercermin dari pertumbuhan impor barang modal yang mencapai 14,27 persen.
Secara keseluruhan, IKBM berada pada level 51,37 melampaui ambang batas 50 yang menjadi penanda zona ekspansi. Angka ini mencerminkan bahwa sebagian besar pelaku industri manufaktur memandang kondisi bisnis mereka lebih baik dibanding kuartal sebelumnya. Pengukuran IKBM sendiri dilakukan BPS dengan menggunakan sampel sekitar 8.561 perusahaan manufaktur untuk mendapatkan gambaran industri yang lebih komprehensif.
Kendati demikian, pemulihan sektor manufaktur belum merata. BPS mencatat komponen waktu pengiriman dalam IKBM masih berada di zona kontraksi, dipicu oleh melambatnya distribusi barang selama periode Ramadhan dan Idul Fitri. Beberapa subsektor juga masih menghadapi tekanan, di antaranya industri alat angkut yang terkontraksi 5,4 persen serta industri pengolahan tembakau yang mencatatkan pertumbuhan negatif 2,8 persen.
Amalia menegaskan, kondisi tersebut menunjukkan perlunya pembacaan data manufaktur secara lebih rinci agar kebijakan penguatan sektor riil dapat tepat sasaran. Baik untuk mendorong subsektor yang sudah tumbuh maupun menyokong subsektor yang masih membutuhkan intervensi.
Secara makro, ekonomi Indonesia mencatat pertumbuhan 5,61 persen yoy pada Triwulan I-2026, dengan konsumsi rumah tangga, investasi, dan percepatan belanja pemerintah di awal tahun sebagai motor utamanya.
Sumber: Antaranews
