Muhammadiyah

Puasa Arafah: Penghapus Dosa Dua Tahun dan Amalan Istimewa Bulan Zulhijah

Bulan Zulhijah mengajarkan umat Islam bahwa kemuliaan waktu membutuhkan kesiapan jiwa, tidak sekadar rutinitas. Islam tidak hanya menjadikan bulan ini sebagai waktu penyembelihan hewan kurban, melainkan juga sebagai ladang ibadah yang luas meliputi zikir, sedekah, puasa, dan pembinaan akhlak secara menyeluruh.

Di antara ibadah yang paling istimewa pada bulan ini adalah puasa Arafah. Hari Arafah memiliki makna yang berbeda bagi dua kelompok umat Islam. Bagi para jemaah haji, tanggal 9 Zulhijah menjadi puncak dari seluruh rangkaian ibadah haji, sebab wukuf di Padang Arafah adalah rukun yang menentukan sah atau gugurnya ibadah tersebut. Adapun bagi umat Islam yang tidak sedang berhaji, Allah membuka pintu rahmat yang tak kalah besar melalui ibadah puasa.

kaum muslimin di berbagai penjuru dunia yang tidak sedang menunaikan ibadah haji dianjurkan untuk menghidupkan hari itu dengan puasa. Tahun ini, puasa Arafah jatuh pada 9 Zulhijah yang bertepatan dengan hari Selasa, 27 Mei 2025 tepat sehari menjelang perayaan Iduladha.

Keutamaan puasa Arafah berlandaskan dalam hadits shahih riwayat Imam Muslim dan Ahmad. Dari Abu Qatadah al-Anshari ra, Rasulullah saw bersabda:

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ الأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ
[رواه مسلم وأحمد]

Artinya: “Dari Abu Qatadah al-Anshari ra bahwa Rasulullah saw ditanya tentang puasa hari Arafah, lalu beliau menjawab: ‘Puasa hari Arafah menghapus dosa-dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.’” (HR Muslim dan Ahmad).

Hadis tersebut merupakan bukti kebesaran kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Allah menjanjikan penghapusan dosa selama dua tahun: yaitu satu tahun yang berlalu dan satu tahun yang akan datang cukup dengan satu hari berpuasa. Pada konteks ini adalah dosa-dosa kecil, adapun dosa besar tetap membutuhkan tobat yang sungguh-sungguh.

Kemudahan jalan tobat tersebut menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang tidak memutus harapan manusia. Setiap hamba diberi kesempatan untuk memulai lembaran baru, membersihkan diri, dan memperbaiki arah hidupnya.

Lebih dari sekadar ritual, puasa Arafah juga melatih dimensi batin seseorang. Rasa lapar dan dahaga yang ditanggung sepanjang hari menjadi pengingat bahwa manusia bukan semata makhluk yang hidup untuk memenuhi hasrat fisik. Ada jiwa yang perlu diasah, ada hati yang butuh didekatkan kepada Sang Pencipta.

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan materialistis, puasa hadir memberikan jeda untuk merenung. Merenungkan sejauh mana kehidupannya digunakan untuk kebaikan serta pengabdian.

Selain puasa Arafah, pintu amal di bulan Zulhijah terbuka sejak awal bulan. Umat Islam juga dianjurkan berpuasa pada sembilan hari pertama bulan Zulhijah bagi yang memiliki kesanggupan. Anjuran ini merujuk pada hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Ahmad, dan Al-Baihaqi

عَنْ هُنَيْدَةَ بْنِ خَالِدٍ عَنْ امْرَأَتِهِ عَنْ بَعْضِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ تِسْعَ ذِي الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ، أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ وَالْخَمِيسَ
[رواه أبو داود وأحمد والبيهقي]

Artinya: “Dari Hunaidah bin Khalid, dari istrinya, dari salah seorang istri Nabi saw, ia berkata: Rasulullah saw biasa berpuasa pada sembilan hari Zulhijah, hari Asyura, tiga hari setiap bulan, serta Senin pertama dan Kamis pertama setiap bulan.” (HR Abu Dawud, Ahmad, dan al-Baihaqi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *