EkonomiPengabdian

UMY Bekali NA dan Pemuda Muhammadiyah Gading Klaten dengan Keterampilan Wirausaha

Semangat kewirausahaan memenuhi ruangan Sholihin UMKM Center, Klaten, pada Minggu pagi (10/5/2026). Kader muda dari Nasyiatul Aisyiyah (NA) dan Pemuda Muhammadiyah wilayah PRM Gading Klaten berkumpul mengikuti program Pengabdian kepada Masyarakat yang diinisiasi Dr. Ir. Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc., IPM., dosen Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Mengusung tema “Pengembangan Keterampilan Wirausaha bagi Nasyiatul Aisyiyah (NA) dan Pemuda Muhammadiyah Wilayah PRM Gading Klaten”, kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen UMY dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi sekaligus mendorong penguatan kapasitas wirausaha generasi muda persyarikatan. Antusiasme peserta yang terlihat sejak awal acara mencerminkan tingginya semangat untuk membangun kemandirian ekonomi di tengah tantangan zaman yang terus berkembang.

Kegiatan dibuka oleh Ketua PRM Gading Klaten, Ustadz H. Muhammad Sobri, Lc., M.H., yang dalam sambutannya menegaskan bahwa kemandirian ekonomi adalah bagian dari dakwah. “Kader muda Muhammadiyah harus mampu berwirausaha dengan tetap berpegang pada nilai-nilai Islam,” ujarnya.

Program ini menghadirkan kolaborasi antara tim pengabdian UMY, praktisi UMKM, dan pengelola Sholihin UMKM Center dengan agenda bertajuk “Sharing Satu Hari Membangun Ekonomi Kreatif Masa Depan”. Rangkaian materi dirancang untuk menyentuh aspek mendasar kewirausahaan, dari fondasi nilai, praktik wirausaha, hingga strategi pasar yang aplikatif.

Dari Etika Bisnis hingga Peluang Daur Ulang Plastik
Sesi pertama dibawakan oleh Ustadz Chusnul Azhar dari UMY yang mengangkat tema Etika Bisnis dalam Islam. Ia menekankan bahwa berbisnis bukan semata soal keuntungan, melainkan juga keberkahan dan kemanfaatan bagi masyarakat. Prinsip kejujuran, amanah, keadilan, dan tanggung jawab sosial menjadi nilai-nilai yang harus menjadi kompas setiap pengusaha Muslim.

Materi dilanjutkan oleh Irfan Wahyudi, praktisi dan konsultan manajemen UMKM, yang membahas strategi Perencanaan Usaha Masa Depan. Ia mendorong peserta untuk mulai membangun mindset pengusaha sejak dini, berani mengambil langkah pertama, disiplin dalam mengelola keuangan, dan aktif membangun jejaring bisnis yang kuat. Peluang, menurutnya, selalu ada bagi mereka yang siap.
Tak kalah menarik perhatian, Dr. Cahyo Budiyantoro selaku Ketua Tim Pengabdian memperkenalkan potensi usaha berbasis daur ulang plastik. Limbah plastik rumah tangga yang selama ini dianggap masalah, ia tunjukkan sebagai peluang bisnis nyata bila dikelola dengan teknologi sederhana dan kreativitas. Lebih dari sekadar menguntungkan, usaha ini sekaligus berkontribusi pada pengurangan limbah dan pelestarian lingkungan.

Praktik Langsung Bisnis Kuliner

Salah satu sesi yang paling dinantikan adalah praktik langsung pembuatan bakpia dan donat bersama tim Sholihin UMKM Center. Usaha kuliner dipilih karena dinilai paling realistis untuk dirintis kader muda modal terjangkau, proses produksi sederhana, dan pasar yang luas. Peserta tidak hanya belajar memasak, mereka juga diajak memahami seluruh rantai bisnis, mulai dari persiapan bahan baku, teknik produksi, pengemasan, hingga cara menghitung harga jual dan margin keuntungan secara sederhana.

Sesi ditutup dengan pembahasan strategi segmentasi pasar dan branding usaha. Peserta diperkenalkan pada konsep level market dari masyarakat umum (awareness), calon pelanggan (prospecting), pembeli (konsumen), pelanggan tetap (client), hingga advocate yang secara sukarela merekomendasikan produk kepada orang lain. Pemahaman ini menegaskan bahwa kesuksesan usaha bukan hanya soal kualitas produk, tetapi juga tentang membangun relasi dan identitas merek yang konsisten.

Seluruh rangkaian kegiatan disambut antusias oleh peserta. Materi yang disampaikan dinilai membumi dan langsung bisa diterapkan, bukan sekadar teori melainkan pengalaman nyata dari para pelaku UMKM. Banyak peserta mengaku mendapat perspektif baru bahwa usaha bisa dimulai dari skala kecil, dari lingkungan terdekat, asalkan dilandasi perencanaan yang matang dan niat yang lurus.

Di penghujung acara, sejumlah peserta menyuarakan harapan agar program serupa digelar secara rutin dengan pendampingan yang lebih intensif, khususnya di bidang pemasaran digital. Beberapa bahkan mulai melirik peluang usaha daur ulang plastik sebagai langkah konkret menuju wirausaha kreatif yang sekaligus ramah lingkungan. Melalui program ini, UMY membuktikan bahwa pengabdian kepada masyarakat bukan sekadar kewajiban akademik melainkan kontribusi nyata untuk masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *