KesehatanMuhammadiyah

Jogja Nyawiji: Bersama Tuntaskan TBC

Dalam rangka memperingati hari tuberkolosis sedunia 2026 tenaga medis dari berbagai instansi melaksanakan seminar hybrid pada kamis (23/4/2026). Hadir peserta dari berbagai unsur rumah sakit, puskesmas, klinik, perguruan tinggi, hingga masyarakat umum. Mengusung tema “Jogja Nyawiji: Sinergi Aksi Tuntaskan TB” digelar atas kerja sama Dinas Kesehatan DIY, MPKU PWM DIY, dan RS PKU Muhammadiyah Gamping.

Kepala Dinas Kesehatan DIY, dr. Gregorius Anung Trihadi, menegaskan bahwa penanggulangan TBC tidak bisa hanya bertumpu pada satu pihak. Rumah sakit, klinik, puskesmas, organisasi profesi, dan masyarakat harus bergerak bersama. Direktur RS PKU Muhammadiyah Gamping, dr. Ahmad Faesol, menambahkan bahwa jejaring kolaborasi yang kuat menjadi kunci agar upaya eliminasi TBC benar-benar berjalan.

Dari sisi Muhammadiyah, Ketua MPKU PWM DIY dr. Masykur Rahmat menyatakan komitmen untuk terus berkolaborasi, khususnya dalam memperluas jangkauan edukasi dan layanan ke masyarakat. Peran ini sudah diakui Dinkes DIY, Muhammadiyah dan Aisyiyah disebut sebagai bagian dari Tim Percepatan Eliminasi TBC yang selama ini membantu menjangkau komunitas.

Sesi materi menghadirkan sejumlah pembaruan penting. Dokter spesialis paru dr. Ardorisye Saptaty Fornia memaparkan perubahan dosis dan regimen terapi TBC terbaru. Dr. Rina Triasih mengingatkan bahwa diagnosis TBC anak tidak boleh hanya mengandalkan sistem skoring, melainkan harus mempertimbangkan kondisi klinis dan pemeriksaan penunjang secara lengkap. Sementara dr. Nadia Nur Azizah menekankan peran fasilitas kesehatan tingkat pertama sebagai pintu awal yang menentukan dalam memutus rantai penularan.

Diskusi peserta berlangsung aktif dan menyentuh persoalan nyata di lapangan. Seorang dokter dari Klinik PKU Muhammadiyah Berbah mempertanyakan cara menegakkan diagnosis TBC anak di fasilitas terbatas tanpa bergantung berlebihan pada skoring dan rontgen. Dari Kulon Progo, seorang pengelola puskesmas mengangkat persoalan tracing yang efisien di tengah batasan privasi medis pasien. pertanyaan yang menyentuh tantangan teknis sekaligus etika di lapangan.

Forum ini menegaskan satu pesan: eliminasi TBC hanya bisa dicapai melalui kerja bersama yang konsisten dan melibatkan seluruh unsur pelayanan kesehatan serta masyarakat.

(Sumber: Suaramuhammadiyah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *