Educating for Impact: Building Healthy Smiles among Undocumented Population
Dalam rangka melaksanakan pengabdian masyarakat, drg. Puspitarini Nindya Wardana, Sp.Ort., dosen program studi Profesi Dokter Gigi Universitas Muhammadiyah Yogyakarya (UMY) mengadakan program edukasi dan pelayanan kesehatan gigi kepada populasi tanpa dokumen (pekerja migran) melalui pendekatan berbasis komunitas. Tim pengabdian melaksanakan program di Kampung Air Semporna, Malaysia dengan melibatkan 297 peserta selama dua hari, yakni Jumat dan Sabtu (21 – 22/11/2025)
Program pengabdian ini berangkat dari keterbatasan akses pelayanan kesehatan, khususnya kesehatan gigi dan mulut, pada populasi tanpa dokumen. Tim pengabdian mengidentifikasi bahwa pekerja migran asal Filipina dan Indonesia mendominasi populasi dokumen (undocumented population) di wilayah tersebut. Status tanpa dokumen tidak hanya berdampak pada aspek sosial dan ekonomi, tetapi juga membatasi akses mereka terhadap pelayanan kesehatan formal.

Di wilayah Sabah, populasi tanpa dokumen menghadapi tiga hambatan utama: biaya layanan kesehatan yang tinggi, keterbatasan legal, dan ketiadaan identitas. Kondisi tersebut menyebabkan masyarakat lebih bergantung pada jejaring informal atau layanan berbasis komunitas. Kondisi ini semakin memburuk sejak pandemi COVID-19 turut meningkatkan kekhawatiran masyarakat terhadap akses perawatan sekaligus mempersempit jangkauan pelayanan kesehatan gigi dan mulut.
Menjawab permasalahan tersebut, kegiatan pengabdian berbasis keterlibatan komunitas ini bertujuan meningkatkan literasi kesehatan gigi dan mulut demi terbentuknya kebiasaan kebersihan mulut yang lebih baik. Program ini sekaligus memberikan akses layanan kesehatan gigi dan mulut melalui perawatan gigi dasar secara gratis.
Tim pengabdian menjalankan upaya tersebut melalui edukasi terstruktur dan pelatihan praktik kebersihan mulut. Tim menyediakan pemeriksaan dan perawatan gigi dasar, termasuk skrining, konsultasi, ART (Atraumatic Restorative Treatment), fluoride topikal, dan pencabutan sederhana. Program ini diharapkan dapat meminimalkan hambatan akses pelayanan kesehatan sekaligus mendorong masyarakat lebih proaktif menjaga kesehatan gigi dan mulut sejak dini.
Program ini dilaksanakan oleh dosen Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dosen Faculty of Dentistry Universiti Malaya, serta organisasi Dentistry For The Needy (DFTN) berkolaborasi pada program ini.
Guna menunjang keberhasilan program, tim melakukan wawancara dan pengisian kuesioner untuk mengidentifikasi kebutuhan serta persepsi masyarakat terhadap kesehatan gigi. Untuk mengatasi kendala bahasa yang dihadapi selama kegiatan, tim memanfaatkan dukungan penerjemah lokal dari komunitas Borneo Comrade.
Seluruh rangkaian kegiatan disambut dengan antusias oleh para peserta, mulai dari sesi edukasi hingga pemeriksaan gigi. Tingginya partisipasi dan antusiasme peserta mencerminkan besarnya kebutuhan masyarakat terhadap program kesehatan ini. Ketertiban peserta dalam mengantre untuk konsultasi dan perawatan gigi dasar turut menunjukkan keterbukaan mereka terhadap layanan yang diberikan.
Program pengabdian ini sepenuhnya mendapatkan dukungan dari UMY melalui Lembaga Masyarakat (LPP). “Melalui program pengabdian ini, UMY memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat sesuai dengan disiplin keilmuan dosen yang mengadakan pengabdian,” jelas Dr. Gatot Supangkat, ketua LPM UMY.
